
Bukan yang Terakhir
Delapan belas tahun berlalu sejak aku pertama kali menekan tombol publish di project blog pertamaku. Kala itu, menulis terasa seperti membuka jendela kecil ke dunia, meski hanya segelintir orang yang sempat mampir. Kini, setelah perjalanan panjang yang penuh liku, aku kembali ke titik awal—menulis lagi di tempat yang terbaru, bukan sekadar nostalgia, tapi sebagai sebuah janji bahwa ini bukan yang terakhir.
Sejenak Melepaskan
Hari-hari belakangan ini penuh dengan kepenatan. Menjadi CTO di sebuah Kantor Berita yang terverifikasi Dewan Pers bukanlah pekerjaan ringan. Tanggung jawab menjaga sistem, memastikan berita tetap mengalir, dan mengawal integritas digital sering kali menguras energi. Apalagi tadi malam, ketika traffic ambles begitu saja gara-gara Cloudflare tumbang. Rasanya seperti menyaksikan sebuah kota mati lampu: sunyi, gelap, dan penuh keresahan.
Namun, di balik kepanikan itu, ada ruang kecil untuk refleksi. Bahwa teknologi, sehebat apapun, tetap rapuh. Dan manusia, dengan segala keterbatasannya, selalu punya pilihan: berhenti sejenak, menarik napas, lalu menuliskan kembali apa yang penting.
Tapi yang Terbaru
Kini aku memilih untuk kembali menulis. Bukan sekadar mengulang masa lalu, melainkan mencatat apa yang terlewat, menyusun ulang serpihan pengalaman, dan menjadikannya catatan masa depan. Menulis bukan lagi hobi yang tersisih, melainkan sebuah kebutuhan—cara untuk merawat ingatan, menyalurkan keresahan, dan mungkin, memberi arah bagi perjalanan berikutnya.
Karena setiap catatan adalah jejak. Dan setiap jejak adalah pengingat bahwa perjalanan ini masih panjang.




